![]() |
| Depan Toko Tahilalats |
Seperti anak muda lainnya, kami mengambil gambar sebanyak mungkin di tempat itu. Disana juga banyak spot foto yang disediakan, sehingga dengan mudahnya kami berfoto di spot foto yang telah disediakan di seluruh kafe. Kami keluar dari penginapan saat itu sudah jam set 8 malam, sehingga saat di Toko Tahi lalats kami mendekati waktu sudah mau closing atau tutup. Tidak lama dari itu kami memilih untuk pulang, karena perlu membeli beberapa keperluan untuk dipenginapan dan juga untuk makan malam nantinya.
Saat keluar dari kafe dan sedang berjalan, aku melihat ada seorang bapak yang sedang berdiri membawa banyak buku mengenai Agama Islam ditangannya. Dia terlihat mondar mandir seperti sedang berjualan, tetapi tidak menawarkan ke siapapun yang sedang lalu lalang dihadapannya. Hatiku terpanggil ingin menemuinya, tapi saat itu aku tetap jalan melalui beliau. Saat itu juga aku menggumam sendiri seperti antara hati dan logika berkecamuk dalam waktu yang singkat, dan ya akhirnya aku memutuskan kembali menghampiri beliau. Aku bilang ke temanku saat itu, "Na, gue mau kesana dulu deh. Beli buku".
"Pa, jual apa?" tanyaku saat itu
"Ini ada Juz'Amma, buku tuntunan sholat" sambil menunjukan buku buku yang di pegangnya
"Boleh liat ga pak, ada buku apa aja" pintaku
"Oh boleh" beliau membiarkan ku melihat lihat buku buku yang lainnya
Aku melihat banyak buku tentang Agama Islam, dari mulai panduan untuk sholat, mengaji sampai kisah nabi. Kemudian, aku memilih buku dengan isi dzikir dzikir. Ukuran bukunya travel size alias mini gitu, jadi cocok dibawa kemana mana. Meskipun sebetulnya aku ada buku dzikir lebih lengkap, tapi memang niatku ingin membantu bapak ini. Kami berbincang bincang, dari obrolan yang hanya basa basi nanya aku dari mana sampai ke obrolan yang cukup serius yang cukup membuat aku takjub. Awalnya kami mengobrol mengenai kuliah ku, aku semester berapa, jurusan apa dan sebagainya. Sampai saat bapaknya cerita kalau beliau merupakan alumni Unpad, aku lupa jurusannya antara teknik atau apa gitu, Industrinya asing ditelingaku yang aku sendiri anak Komunikasi dan berhubungan dengan media digital kan .. Kemudian, aku tanya tanya lagi. Beliau juga cerita awal beliau kesini (Bandung) tahun 1979, beliau ini perantau dari belitung untuk kuliah disini. Luckily beliau ketemu jodohnya disini, dan menikah sudah punya 2 anak dan juga cucu. Beliau juga cerita kerja di sebuah perusahaan *teknik atau apa ya aku lupa banget karena asing dan cepet* dan kena PHK ketika zamannya Presiden Megawati, ujarnya saat itu. Jujur saat itu kondisi tempat kami mengobrol cukup ramai lalu lalang orang, di waktu yang singkat juga si bapak ini bercerita panjang lebar di depan Toko TahiLalats. Kemudian beliau lanjut bercerita setelah beliau kena PHK, beliau mendapat uang pesangon untuk digunakan membeli rumah sekaligus Usaha. Beliau cerita juga kondisi Braga saat itu, dan juga bandung saat tahun 80an. Seru sekali rasanya mendengar bapak ini bercerita panjang lebar, dari cara beliau bercerita atau berkomunikasi terlihat tertata dari cara pemilihan bahasa, kata, sampai pola pikirnya pun tergambar bahwa beliau memang orang yg cerdas. Beliau juga cerita, sebetulnya kalau ketemu teman teman kuliahnya saat berkuliah di Unpad suka ditanya "Ngapain si jualan kayak gitu?" dan beliau bilang, ya gapapa kan ngisi waktu juga dan berkah. Beliau bilang gamau repotin anak anaknya, meskipun memang anak anaknya sudah cukup memenuhi kebutuhan hidupnya dan istrinya. Beliau juga bilang, "Mau ngapain di rumah bosen, kalau kayak gini kan ada kegiatan dan juga lumayan kan dapat uang juga. Orang masih sehat juga" Aku cukup mengerti dengan keadaannya, menurutku seseorang yang terbiasa sibuk dan punya aktivitas sehari hari, saat pensiun kadar bosannya bisa terlampau sangat tinggi. Aku melihat itu dari Kakek Nenekku sih, berbagai macam kegiatan atau usaha dilakukan meskipun anak dan cucunya melarang.
Diwaktu yang terbatas, kami bertukar cerita dan sharing cukup intens. Beliau juga cerita mengenai anak anaknya yang lulusan universitas ternama, salah satunya ada yang lulusan Matematika. Beliau cerita, di usia senja seperti ini rasanya sungkan jika terus merepoti anak anaknya apalagi beliau masih sehat juga. Meski begitu, beliau bercerita kalau saat ini istrinya sedang di rumah anaknya yang berada di Tasikmalaya. Sayangnya, aku tidak ingat detail mengenai cerita anak anaknya yang beliau ceritakan. Tapi, aku bisa merasakan dengan sangat betapa beliau bangga dengan keberhasilan anak anaknya. Jelas yaaa, sampai diceritain sedetail itu. Oh ya aku belum bilang, kalau anaknya lulusan Unpad juga dan satunya di ITB. Sayangnya juga, temanku sudah meminta untuk segera kembali ke penginapan. Aku lupa nanya nama bapaknya, padahal beliau udah cerita banyak tentang background dan juga pengalamannya. Sebetulnya ada rasa skeptis dari aku, iya aku kan emang suka cari tau dan analitikal banget ya anaknya. Untuk kroscek apakah bapaknya benar lulusan Universitas itu, tapi terlepas dari itu semua. Aku percaya betul, atas semua sharing yang dibagikan oleh si bapak. Bapaknya juga malah sharing skripsi aku dengan judul yang aku angkat, bahkan beliau tanya aku magang dimana dll. Terlihat jelas, beliau bisa diajak ngobrol banyak hal dan wawasannya cukup luas. Membicarakan teknologi pun ga yang ngang ngeng ngong gitu loh, aku kagum banget sih....
Seperti menemukan Hidden Gem gitu, ga akan nyangka bisa ketemu beliau dengan cerita dan sharing hidup yang cukup intens di tempat dan situasi yang ga terduga. Aku sampai memuji beliau dengan pengalaman hidupnya, sekaligus dengan kegiatan yang beliau lakukan saat ini. Yaaa, gengsi itu apa sih? Beliau yang sudah berumur aja bisa semangat, masa yang muda banyak gengsinya ya? Aku ganyangka aja bisa ketemu beliau, dan membicarakan isu sosial juga saat itu. KEREN!! Dipikiran ku saat itu sih, ini beliau emang cari temen ngobrol dan aktivitas rutin aja sekaligus cari berkah jualan buku tentang Agama Islam. Makanya ga terlalu nawar nawarin mungkin yaa, yaaa mungkin .. Terlepas apapun itu, aku menemukan makna yang lebih dalam dari perjalanan ini. Aku menemukan arti hidup lagi, memang benar ya kalau pengalaman diri atau sharing dengan orang lain itu yang terbaik untuk jadi mentor diri. Jadi lebih mahal aja sih, ga cuman dapet tempat aesthetic untuk difoto aja tapi dapet yang lebih bermakna dan ada dagingnya. Diakhir aku mau pamit, aku minta foto sama beliau yang siapa tau punya kemungkinan untuk bisa bertemu lagi. Aku juga salim sama bapak ini dan bapaknya doain aku banyak hal, aku bahagia banget malam itu ... Hatiku full ...
Aku jadi inget kata mamah, "Guru itu ga melulu yang berpakaian rapih dan ditempat yang formal seperti sekolah atau institusi. Tapi kamu bisa temuin dimanapun dan kapanpun, kadang bukan orang yang kamu sangka juga. Siapa pun bisa jadi guru dan kasih kamu arti tentang apa yang kamu cari." Sebetulnya itu yang buat aku jadi makin kaget setelah pertemuan dengan bapak itu, perjalanan ku ke Bandung memang untuk "Menemukan sesuatu dihidupku." dan aku berhasil menemukan kepingin puzzle lainnya melalui obrolan ku dengan beliau.
Kalau kamu, seperti apa dalam usaha "Menemukan"?






Tidak ada komentar:
Posting Komentar