Minggu, 21 Juni 2020

Kembali Bekerja di tengah Pandemi, di Masa New Normal

Ruang kerja Inten, Ciater. (Sumber Foto: Penulis-Fiana Auliya Nurhan)
Tangerang Selatan – Pemerintah telah mengumumkan adanya fase new normal untuk tetap menjalani kegiatan seperti biasa ditengah keadaan pandemi, dengan tetap mengikuti aturan dan protokol kesehatan yang berlaku. Sejak 5 juni kegiatan seperti bekerja, tempat ibadah, mall dan tempat umum lainnya mulai dibuka kembali dengan tetap mengikuti aturan berlaku.
Begitu juga dengan Meka Hajiah (20), pekerja di Inten cabang Ciater, tempat Bimbingan Belajar. Telah mulai masuk kerja sejak 5 juni lalu, setelah sebelumnya bekerja dari rumah atau WFH (Work From Home). Sabtu(20/06/2020)

“Iya fi udah mulai masuk ke kantor lagi dari pas pemerintah ngeluarin pengumuman adanya new normal, ya enak sih soalnya jadi ga di rumah mulu. Kalau di rumah mulu kan bosen ya, beda aja gitu vibesnya” Ujar Meka.
Suasana Ruang Belajar Kosong
(Sumber Foto: Penulis-Fiana Auliya Nurhan)

Menurutnya, untuk saat ini kegiatan belajar mengajar offline masih melalui online. Namun, untuk yang aktif kerja di tempat hanya 3 orang, Kepala Cabang, Sekretaris, dan Office Boy.

“Nggak berjalan seperti biasa si, jam kerja dikurangin, jumlah orang dalam tempat kerja juga dikurangin sama ga ada siswa yang belajar di tempat. 1 minggu itu masuk 3 hari sekarang, mulai dari jam 09.00-17.00. Biasanya kan 5 hari dalam seminggu, sekarang sisanya dijadiin hari libur sih fi” Jelas Meka.

Adanya New Normal ditengah pandemi seperti ini, sedikit banyak perubahan yang ada. Dari jam kerja dan jumlah orang yang dibatasi dalam ruangan, karena mengikuti aturan yang berlaku demi menjaga kesehatan bersama di masa pandemi.

Meka sedang Bekerja,
Tidak lupa menggunakan Protokol Kesehatan.
(Sumber Foto: Penulis-Fiana Auliya Nurhan)

Meka juga mengikuti aturan yang berlaku dan anjuran protokol kesehatan yang ada, seperti jaga jarak, penggunaan face shield, masker dan tidak lupa untuk jaga kebersihan tangan.

“Senin depan sih (22 Juni 2020), udah mulai belajar di tempat fi. Tapi masih mengikuti aturan yang berlaku gitu, kaya jaga jarak dan dibatasi didalam ruangannya.” Jelas Meka. (FA)

Jumat, 19 Juni 2020

Kuliah Online Selama Pandemi, Bisnis Makanan dari Rumah Diminati

Salah satu menu favorit, Bucket Mie Pangsit, Bsd. (Sumber Foto : Narasumber-Annisa Desyanti)
TANGERANG SELATAN - Sejak dipindahkannya kegiatan belajar dari rumah selama pandemi, membuat banyak pelajar/mahasiswa bosan dengan rutinitas yang ada.
Annisa Desyanti (20) kerap di sapa Ades, seorang Mahasiswi Universitas Negeri Jakarta pun ikut merasakan hal tersebut. Rutinitas kuliah setiap hari yang biasa dilakukan setiap hari, dari BSD-UNJ , kini ia harus melakukan semua kegiatannya dari rumah. Kamis(18/06/2020)
Ades mengisi waktu luangnya dengan mencoba berjualan makanan ringan yang dibuatnya, sudah 3 minggu ini ia mencoba berjualan.
“Buat ngisi waktu luang fi, karena bosen ngerjain tugas mulu, malah lebih seru main masak-masakan atau jualan gitu.” Ujar Ades.
Ades mengolah kulit pangsit untuk dijadikan cemilan, dengan berbagai bentuk kreasi dan rasa yang digabungkan. Bermula dari rasa penasaran, lalu ia membuatnya dan ternyata mudah. Untuk varian awal, ia membuat Hot Pangsit isi bihun,ayam,sosis pedas, Stick Pangsit, Keripik Pangsit dan Pangsit Mulur dengan varian rasa yang beraneka. Harga beriksar dari Rp2.500-Rp5000, sangat terjangkau untuk berbagai kalangan.

Keripik Pangsit rasa Original.
(Sumber Foto : Narasumber-Annisa Desyanti)



“Sebenernya dari dulu juga emang pengen jualan. Tiap gua upload masak-masak ke Instagram pasti ada yang bales suruh jualan. Tapi kan gua ngampus, jaraknya lumayan jauh dari rumah, harus berangkat pagi dan pulang sore itu juga sampai rumah malem. Makanya ga sempet kalo sambil jualan. Nah, karena sekarang di rumah aja, makanya coba jualan deh.” Ujar Ades.
Menurutnya adanya pandemi seperti ini merupakan hikmah untuk dirinya, bisa memulai usaha yang sempat tertunda oleh kesibukan.
“Iyaa fi waktunya pas, tapi duitnya yang ga pas. Padahal awalnya bukan mau jualan ini loh, tapi karena terbatas modlal jadi yaudah. Soalnya ini juga kan pake modal sendiri dan seadanya karena kan kita lagi ga ngampus jadi ga dapet duit jajan, jadilah coba ngotak ngatik kulit pangsit buat aneka cemilan.” Ujar Ades.

Keripik Pangsit rasa Balado.
(Sumber Foto : Narasumber-Annisa Desyanti)



Untuk pemasaran melalui online, seperti Shopee, Base (Lapak) Twitter, Status di whatsapp dan sosial media lainnya. Bisa juga pengiriman secara Cash On Delivery atau COD, di lokasi yang sudah ditentukan atau bisa diantar sampai ke rumah dikenakan ongkos kirim. Sejauh ini baru teman dekat yang sama lokasinya, belum pengiriman jarak jauh.
Selama kuliah online di rumah, banyak kegiatan yang sebelumnya tidak bisa dilakukan karena terhambat dengan kegiatan yang padat. Adanya pandemi menjadi hikmah tersendiri untuk Ades, karena bisa melakukan hal yang tidak bisa dilakukan sebelumnya. Begitu juga dengan mahasiswa atau pelajar lain yang ingin mencoba, tidak ada salahnya jika ingin melakukan kegiatan yang tidak bisa dilakukan sebelumnya. 
Selamat Mencoba.. (FA)





Nama                     : Fiana Auliya Nurhan
Nim                       : 1971503303
Jurusan                  : Public Relations
Mata Kuliah          : Bahasa Jurnalistik
Kelompok             : YG
Dosen Pengampu  : Dra. Rachmi Kurnia Siregar, M.I.Kom

Sugar Glider, Hewan Imut yang Jarang dijadikan Peliharaan



Sugar Glider, di BSD. (Sumber foto : Penulis-Fiana Auliya Nurhan)

TANGERANG SELATAN - Adam Firdaus(19) pecinta hewan, mulai memelihara Sugar Glider sejak April lalu untuk menambah koleksi hewan peliharaannya. Kamis (18/06/2020)
Sugar Glider merupakan Marsupial (Mamalia Berkantung) seperti Kangguru dan Koala, Jenis kelamin hewan peliharaannya laki-laki.
Menurutnya tidak sulit untuk memelihara Sugar Glider, untuk makan dibutuhkan 2 kali sehari, Adam memberinya bubur bayi rasa pisang atau buah buahan yang rasanya manis.
Lalu, untuk mandi satu kali seminggu dan Kukunya dipotong jika telah panjang.
Sugar Glider sedang bermain dilengan Adam
(Sumber Foto : Penulis-Fiana Auliya Nurhan)


“Emang pengen pelihara aja sih, udah dari lama sebenernya. Terus juga milih ini, karena posturnya kecil sih fi,sama bisa dibawa kemana aja sama jinak juga deng. Jadi gampang diatur” Ujar Adam.
Selain bentuk tubuhnya yang kecil, Sugar Glider juga hewan yang mudah diatur dan senang diajak bermain.
Biasanya Adam mengajak bermain Sugar Glider miliknya sehari sekali, terkadang ia taruh di lengannya, di atas sofa, atau tetap dibiarkan didalam kandangnya.
“Lumayan bisa untuk ngilangin bosen sih fi, kalau lagi main sama ini (Sugar Glider). Seru aja gitu, mana ini juga imut banget kan” Ujar Adam.


Sugar Glider. (Sumber Foto : Penulis-Fiana Auliya Nurhan)






Memiliki hewan peliharaan memang bisa mengurangi rasa stres dalam diri, ada rasa kepuasan dan kesenangan saat bermain dengan hewan peliharaan.
Tidak ada salahnya jika ingin memelihara Sugar Glider sebagai pilihan hewan peliharaan, Imut dan mudah untuk dirawat bukan? (FA)















Nama                     : Fiana Auliya Nurhan
Nim                       : 1971503303
Jurusan                  : Public Relations
Mata Kuliah          : Bahasa Jurnalistik
Kelompok             : YG
Dosen Pengampu  : Dra. Rachmi Kurnia Siregar, M.I.Kom

Produktif Selama di Rumah Saja, Atasi Bosan Kala Pandemi

Janu sedang mengedit videonya, di Ciater,. (Sumber foto :Penulis-Fiana Auliya Nurhan)
TANGERANG SELATAN - Pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk tetap di rumah saja sejak Maret lalu, dimana kegiatan belajar, bekerja dilakukan di rumah untuk mengurangi angka penyebaran covid-19.
Janu Akbar (16) siswa Sekolah Menengah Kejuruan di Tangerang Selatan, mengisi sebagian waktunya untuk tetap berproduktif dari rumah. Selama proses belajar dipindahkan ke rumah, ia mencoba untuk membuat konten di youtube untuk mengisi waktu luang. Rabu(17/06/2020)
Janu sedang proses perekaman video.
(Sumber Foto : Penulis-Fiana Auliya Nurhan)


“Iya selama ada corona jadi fokus buat konten, soalnya kan di rumah aja bosen ya ka, terus tekunin deh buat konten” Ujar Janu.
Ia membuat konten gaming, dimana berisikan video saat ia sedang bermain game. Tidak hanya itu, ia juga memberikan beberapa tips untuk menyelesaikan game yang dimainkannya untuk dibagikan ke penonton.
“Isi konten saya hiburan sama tips tips sih kak, untuk sekarang sih konten saya fokus di game Bus Simulator Indonesia.” Ujar janu.
Penonton konten video Janu, berusia dari 16-27 tahun. Setiap hari ia membuat konten video, butuh waktu 5 jam dari proses perekaman, editing sampai upload ke youtube. Untuk pembagian waktu, saat sore hari dilakukannya proses Perekaman dan editing video selama 2 jam dan proses untuk upload video ke youtube membutuhkan waktu 2 jam.



Tampilan akun Youtube Janu.
(Sumber Foto : Penulis-Fiana Auliya Nurhan)


“Buat konten kaya gini ngga gangu untuk pelajaran si, soalnya kan lebih santai kalau di rumah. Dari pada nongkrong rame-rame, lagi kayak gini yakan, mending produktif di rumah buat konten di youtube, pengennya sih biar bisa menghasilkan uang juga gitu kak hehe” Ujar janu.
Ada banyak hal yang bisa dilakukan secara produktif selama di rumah saja, salah satunya seperti yang Janu buat.
Tidak ada salahnya untuk mencoba hal baru, sekaligus belajar atau mengasah skill baru saat keadaan pandemi seperti ini. (FA)



Nama                     : Fiana Auliya Nurhan
Nim                       : 1971503303
Jurusan                  : Public Relations
Mata Kuliah          : Bahasa Jurnalistik
Kelompok             : YG
Dosen Pengampu  : Dra. Rachmi Kurnia Siregar, M.I.Kom

Senin, 08 Juni 2020

Kembali

       Setelah beberapa tahun tidak menulis dilaman ini, akhirnya kembali membuka dan mencoba memulai menulis lagi. Membaca beberapa tulisan yang telah dijadikan tulisan, ternyata masih banyak sekali kekurangan. yaa gapapa lah ya, namanya juga belajar dan sekadar ingin bercerita aja walaupun tulisannya masih berantakan. Sebenarnya gue masih tetap menulis, seperti puisi atau tulisan singkat ungkapan perasaan. Hanya saja platformnya yang berbeda, gue lebih menggunakan instagram sih, setelah ga pernah nulis disini.
       Di instagram menurut gue lebih mudah digunain, selain untuk menulis tentunya dilengkapi dengan foto yang ada. Jadi, ini alasan yang membuat gue lebih menggunakan instagram. Namun, setelah gue lihat lagi di blog. Kenapa gue ga lanjutin aja lagi nulis di blog dan instagram? ya senyamannya gue aja sih dalam menulis. Jika berkenan dan ingin melihat apa saja yang udah gue tulis di instagram, bisa nih liat disini https://www.instagram.com/fin.ssss/
Beberapa ada yang pakai foto hasil jepretan gue, yang gue sesuaikan dengan tulisannya.
Harapan gue, semoga kedepannya gue bisa lebih baik dalam menulis, dari segi penulisan maupun alur cerita yang runtut. Semoga ya, menjadi lebih baik dari tulisan yang sebumnya dan bisa lebih nyaman dalam menulis, oh sama semoga ada interaksi disini biar lebih terasa hidup.
Dah, makasih.

Kamis, 16 Maret 2017

Foto BTS (BUKU TAHUNAN SISWA)?!

Seperti yang udah tertera di Judul, Kali ini gua mau cerita tentang nano-nano’nya *segala macem rasa* BTS atau Buku Tahunan Siswa, Sama kaya anak anak sekolah pada umumnya yang ngadain kegiatan ini. Nah kali ini gua mau rada lempar kembali kebelakang, jadi gini ceritanya ...






// 28 Juli 2016 //
Dari awal masuk nginjek di kelas 12, Udah ada tuh panitia Bts yang dari kelasan gua mulai nanya
Nanya Photographer buat Bts siapa. Cuman ga digubris karena *mungkin* mikirnya masih lama, terus beberapa bulan kemudian entah gimana apa emang udah kebiasaan setiap sekolah *maklum bukan panitia atau yg ngerti*. Tau tau temen gua yang emang panitia bts ini nanya di grup kelasan untuk Tema bts kelas gua. Jadi setiap kelas itu punya tema yang beda beda,misalnya satu sekolah itu punya 3 kelas 12. 12.1 misalnya temanya klasik, yang 12.2 temanya santai, lalu 12.3 temanya party. Nah kaya gitu,jadi pas dibukunya itu semuanya keliatan tapi dibedain perbab gitu deh *oke gua hanya menjelaskan*, Mulai dari sini udah mulai ada perbedaan pendapat *Wajar kok*
Dari sini .....


 // 5 September 2016 //

 Yaps,tema .. Oke gua lanjut, temen gua yang panitia itu mulai menanyakan Tema yang akan dipakai apa di grup kelas. Tapi sayangnya dari situ udah ada respon yang ga enakin, yaitu nanya boleh ga, engga ikut bts gitu gitu . Lalu direspon baik sama 2 orang tuh,dijawab dengan segimana baiknya deh *gua blm nongol disitu karena off*, ada yang ngasih pendapat serius tapi juga ada yang respon bercanda. Mungkin maksudnya biar ga tegang kali ya wkwkw *wait,tegang?* hahahaha. Oh ya Tema Bts itu perkelas kalau di Sekolah gua, engga perjurusan karena ribet nyatuin pemikirannya *kata temen gua sih gitu* . Dan Drama dimulai,oke emang gua lebayin sih wkwkw. Soalnya ya debatin tema doang ga kelar kelar. Pas Salah satu temen gua nanyain pendapat anak anak kelasan tentang tema yang akan digunakan apa di Grup kelasan *lagi*, Responnya macem macem.. Kenapa macem macem? Yang jawab yaa jawab,yang ngelintur kemana ada, yang sider apalagi. Nah ini dia, di jawab lah oleh salah satu temen gua dan dia bilang “Disekolah aja ngomonginnya” oke disekolah jadinya. Pas disekolah? So pasti debat yang yaa banyak kepala gitu deh. Rada susah, gua sendiri mau berpendapat tapi ga begitu banyak suara. Jadi ya dengerin pendapat yang banyak dulu,jadi gua stekul tuh. Setelah melalui beberapa episode drama di peributan tema, akhirnya pun ...




// 8 September 2016 //

Yeay! Akhirnya kelasan gua mendapatkan tema untuk bts cuy,dengan Tema Modern wkwkw. Setelah melewati beberapa episode yaa,tapi tapi tapi bukan berarti udah langsung mulus berjalan gitu aja. Tema emang dapet sih,tapi ada kendala biaya. Gua kurang ngerti gimana, lumayan lah yang pada komplen sama biaya yang harus dikeluarin untuk bts itu. Jadi lumayan orangnya yang gamau ikut bts,katanya sih harganya yang mahal. Dan mungkin juga kan terserah ya mau ikut apa engga,rada kecewa sih pas denger lumayan banyak yang gaikut gitu. Cuman mau gimana,gua juga ga bisa maksain kan. Cuman mereka kan yang tau alesannya apa, huhu jadi sedih. Tapi sih gua rasa bukan dari biaya ya, soalnya untuk ukuran biaya bts segitu ga mahal banget. Jadi seperti yang gua bilang sebelumnya, hanya mereka yang tau alesannya apa. Dan juga saat itu, emang belum mulai foto jadi masih omong kosong yang katanya pada gamau ikut tuh..


// 14 November 2016 //

So, setelah itu ada foto pertama untuk bts yaitu foto satu kelas barengan Wali Kelasnya nih. Jadi emang perkelas harus gitu dah,foto sama wali kelasnya dan bareng bareng. Biar tar keliatan satu keluarga kelas gitu dah, ya kurang lebih kaya gitu sih ya wkwk. Dari jauh hari udah dikasih tau tuh, biar pada masuk semua pas foto soalnya biar lengkap gitu deh. Dan hari yang dipilih hari senin, karena baju putih putih *loh kok ganyambung si* . jengjed hari itu pun tiba,tapi Pak Teguh *wali kelas gua* Ga masuk. Tapi tuh si eo’nya ngebet banget katanya si ngejar waktu atau gitu dah. Jadi foto emang si, cuman wali kelas gua diganti sama guru yang lagi ngajar pelajaran saat itu, ga sama wali kelas:( dan beberapa anak yang ga masuk pada hari itu. Sayang banget kan.. Setelah beberapa hari berlalu, Yaa gua gatau gimana pokoknya yang gua dapetin informasi itu mau foto ulang katanya. biar lengkap anak anaknya dan biar bisa bareng wali kelas. Gua dapet info untuk bawa pakaian seragam buat foto ya gua bawa,ya tapi gitu deh beberapa anak malah berulah. Idk berulah kenapa, mungkin ribet kali yaa. Dan gajadi foto,sampai gua ga pernah denger lagi mau foto ulang..
-Ini dia fotonya,yang tengah itu guru pelajaran saat itu.
Elintenebris (MM2)


*JADI FOTO BARENG SAMA WALI KELAS: )
Ternyata setelah nunggu sekian lama, Pada tanggal 11 Januari 2017. Baru foto ulang untuk Foto kelasan, bareng Wali kelas tentunya. Cuman gua duduknya makin kepinggir-_-. Gua tuh ya paling gasuka dipinggir. Berasa tersisihkan, cuman keadaan tidak bisa membuat gua lebih ketengah:”). Untuk foto bareng wali kelasnya ga ada: (, jadi nanti aja yaa



// 27 November 2016 //
Hahaha, ya ya yaa.. Drama selanjutnya ya ini, Pakaian buat foto di bts. Tanggal udah ditentuin tuh, lalu tempat juga udah ditentuin dan nyewa studio gitu. Tapi, Bajunya yang belum pada siap. Yaps gitu emang, padahal modern yaa harusnya gampang ya? Ya harusnya sih emang. Tapi kenyataan ga gitu, H- beberapa hari sebelum Bts itu yaa, yang anak anak cewenya pada buat multichat cuman buat nanyain pake baju apa. Ribet banget ya? Namanya juga cewe, sebenernya yang cowo juga kayanya pada bingung cuman dibawa santai deh ‘Kayanya’ wkwkw *sotak amat ni*. Lalu untuk gua sendiri itu, H-1 Foto Bts baru nyari ya dikarenakan beberapa faktor sih ya. Di H-1 itu juga bukan cuman gua aja tuh yang nyari buat di Bts,beberapa juga ada. Nah pas di Hari H juga masih beberapa yang belum siap bajunya, karena bingung mau pake apa. Dan gua juga nganterin temen gua yang mau nanya ketemen gua juga sih, minjem sana minjem sini. And I loved it soalnya berasa banget gitu mau btsnya wkwkw, udah ribet sana sani akhirnya pun ketahap yang selanjutnya yaitu....






// 28 November 2016 //

Jadi tuh gua sama beberapa temen gua barengan berangkatnya,dikarenakan kondisi tempat studio kita untuk foto bts lumayan jauh jadi kita pake kendaraan salah satu temen gua yang muat untuk beberapa orang. Nah,pas dirumah temen gua yang arahnya paling deket ke studio itu, kita semua ganti baju dan siap siap disana gitu deh. Oh iya, ada 7 orang deh pokoknya kita barengan gitu. Nah pas giliran make up, gua gabisa huhuhu. Jaadi kan ada salah satu temen gua yang bisa make up gitu yaa, nah pas dia make up-in gua itu ga cocok sama muka gua. Dan gua disitu kecewa asli sih, jadi rada aneh gitu muka gua. Udah gitu sakit banget pas hapusnya, pokoknya pada sibuk masing masing deh. Gini sih yah kalau belum bisa make up dan nemuin yang cocok sama muka, seriusan gua disitu udah ancur banget moodnya. Cuman cuman untungnya ada satu temen gua yang mau bantuin gua,jadi ga ancur ancur amat tuh mood gua. Pokoknya mulai dari situ gua bertekad untuk belajar makeup sendiri biar ga di ketawain sama hasil orang lain yang ga tau bentuk wajah gua *lebay mode on*  Nah abis itu langsung buru buru mau otw ke studio soalnya waktunya mepet. lalu,


// 28 November 2016 //
Pas kita udah jalan, jengjed. Kena macet coeg-...-, bukan Jakarta cuman tangsel. Macet emang udah jadi salah satu makanan sehari hari di jalan raya sepertinya. Udah deh alamat ga enakin nih,jalanan parah sih macet. Bikin mood gua yang udah ancur makin ancur *loh kok?* , dan segala macem yang bikin gua ga banget saat itu, bener bener bikin gua ga percaya diri tar gimana pas foto kalau mood gua ancur gini. Pikiran pikiran kotor itu pun mulai muncul di kepala gua saat itu,apalagi pas tau  di grup kelas udah ada yang foto foto dan itu buat gua pengen cepet cepet nyampe. Tapi apalah daya yang jalanan macetnya ya macet wkkw,lalu foto yang digrup terus berderet muncul di grup. Setelah melalui jalanan yang macet dan rada ga tau tempat studionya gitu, finally ketemu juga sama studionya. Oh ya nama studionya itu Backlight Studio tempatnya di Gading Serpong geys, pas nyampe langsung buru buru naik ke lantai 3 semua. Dan jengjed ternyata kita telat, karena udah ada yang foto satu kelompok gitu. Tapi bukan berarti ga bisa foto foto, langsung banyak yang foto foto tuh sembari nungguin giliran gitu. Untung bukan telat disekolah ya, coba kalo disekolah bisa kena point *apaan sih fi*


// 28 November 2016 //
Nah pas yang kelompok pertama itu udah foto, yg selanjutnya itu gatau siapa. Soalnya gua dan temen temen yang ada disitu juga belum janjian untuk foto satu kelompok gitu deh, lalu salah satu temen gua ada yang ngomong ayo foto siapa aja yang mau. Langsung aja gua bilang, gua gua gua. Akhirnya dengan mendadak kita barengan dan sama 2 orang temen yang lainnya yang bilang juga. Terus pilih tempat spot fotonya tuh diana,dan ya beberapa kali cekrek wkwk akhirnya pun selesai dengan beberapa pengarahan tentunya.
Setelah itu tinggal foto sendiri sendiri. Jadi kan yang foto sendiri itu bebas tuh siapa yang mau difoto duluan. Foto yang sendiri itu buat di biodata buku BTS gitu dah, nah yang pertama itu temen gua duluan yang di satu kelompok foto sama gua itu, nah setelah dia baru gua. Hahaha
Nah pas gliran gua, aseli gua kaku banget. Gua bingung aja harus bergaya apa fotonya,soalnya kan difotoin sama orang yang udah ahli gitu deh bisa disebut hehehe. Tapi ya namanya juga buat BTS, ya jadi ga mungkin asal asal lah fotonya jadi diarahin tuh sama eo BTS’nya biar bagus *yaiyalah*. Kan gua ditanya tuh, dimana mau fotonya.Trus gua milih deh tempatnya, nah ternyata si orangnya  itu ngeliat dari gaya pakaian yang dipakai gua dan disesuain deh sama dia properti yang dibutuhkan. Gua dikasih properti buku gitu deh, trus so so kalem gitu deh fotonya. Wkwkw
Setelah gua foto, gantian deh yang lain. Dan juga kelompok yang seterusnya lagi...
-Nah gua ada beberapa foto disana, ga semuanya si. Gua milih ini bener bener acak



// 28 November 2016 //
Ini dia yang  ditunggu tunggu, Selesainya rangkaian foto foto. Setelah itu kita foto barengan tuh semuanya yang ikut itu, dan gua kesel banget *curhat* gua dipinggir. Jadi ga keliatan banget, dan gua gasuka itu...... Dan gua cuman bisa diam, ah kesel deh kalo diinget inget. Apalagi pas hasilnya kepala gua doang yang keliatan, kaya penampakan gitu dah gua wkwk. Tapi yaah, gapapa sih ya. Semoga Inget terus gua sama momentnya.. Setelah foto foto dan boomerang *itu loh salah satu fitur dari Instagram*, saatnya mengakhiri Rangkain Foto BTS inii.. yeay pulang,itu udah jam 7’an malem kalau ga salah. Nah ada cerita lucu, eh ga lucu sih tapi nyebelin atau juga bisa disebut memalukan. Jadi kan sebelum foto rame rame itu gua asal naro hp tuh di meja,pas udah selesai foto foto. gua mau ambil lagi tuh hpnya karena mau pulang. *jengjed* Hpnya Ilang coeg, gua panik banget. Mana udah pada mau balik, tapi hp gua malah ilang. Gua nanya nanya mulu dan nyuruh miscallin ke hp gua, sampe semuanya sibuk nyarinn hp gua, dan sibuk introgasi takutnya gua lupa naro. Nah terus ada salah satu temen gua yang ke lantai bawah untuk nyari, dan jengjed dia nemuin. Ternyata di umpetin sama kaka eonya itu. Gua taunya pas kedengaran suara temen gua yang bilang “makasih” dan yaah gua ngakak,bingung dan lega juga sih wkwkw. Tapi gua malu banget sama kesel, maksudnya apa sih-_-



Minggu, 18 Desember 2016

Jurnalistik? kenapa engga ....


Holaha ...

Bahasan gua kali ini yaitu tentang Jurnalistik, yaps sama tuh kaya yang dijudulnya. Gua sendiri kebetulan tertarik sama Dunia ini, kalau menurut gua sendiri Jurnalistik itu luas sih yaaa.. Jadi bukan tentang wartawan aja,tapi meliputi yang lainnya juga yang sama sama terlibat dibidang ini. Untuk terjun ke Dunia Jurnalistik ini ada beberapa hal yang harus diasah.Contohnya kaya gua yang suka nulis sombong dah , itu juga bisa jadi bahan pembelajaran kan dikit dikit buat ngelatih.





Tapi Bukan hanya mengandalkan tulisan nih, etika,sikap dan Analisis juga jadi hal yang penting buat mancay *sejenis cakep* di dunia Jurnalistik nih. Emang sih gua belum belajar ‘Secara Langsung’ tentang Jurnalistik ini sendiri, Tapi kalau pengetahuan tentang Jurnalistik mah adalah dikit dikit.

Pengertian tentang Jurnalistik itu sendiri yaitu mencari,mengumpulkan,menyusun data lalu menulisnya dengan melalui proses editing lalu di Publish melalui Media masa. Kalau Wartawan atau jurnalis adalah seorang yang melakukan Jurnalisme *Jurnalisme atau Jurnalistik itu sama aja*, yaitu orang yang secara teratur menuliskan berita (berupa laporan) dan tulisannya dikirimkan/dimuat di media massa secara teratur. Laporan ini lalu dapat dipublikasi dalam media massa, seperti koran, televisi, radio, majalah, film dokumentasi, dan internet. Wartawan mencari sumber mereka untuk ditulis dalam laporannya; dan mereka diharapkan untuk menulis laporan yang paling objektif dan tidak memiliki pandangan dari sudut tertentu untuk melayani masyarakat. Nah dulu kegiatan seperti ini di Indonesia itu masih dalam ruang lingkup kecil gitu untuk ngasih ke masyarakatnya karena hanya tersebar media cetak aja, Ga kaya sekarang yang udah bisa kita dapetin dimana aja dengan mudah.

Sejarah singkat perkembangan Jurnalistik di Indonesia

Di Indonesia, Perkembangan kegiatan Jurnalistik diawali oleh Belanda. Beberapa pejuang kemerdekaan Indonesia pun menggunakan jurnalisme sebagai alat perjuangan. Di era-era inilah Bintang Timoer, Bintang Barat, Java Bode, Medan Prijaji, dan Java Bode terbit. Pada masa pendudukan Jepang mengambil alih kekuasaan, koran-koran ini dilarang. Akan tetapi pada akhirnya ada lima media yang mendapat izin terbit: Asia Raja, Tjahaja, Sinar Baru, Sinar Matahari, dan Suara Asia.
Kemerdekaan Indonesia membawa berkah bagi Jurnalisme. Pemerintah Indonesia menggunakan Radio Republik Indonesia sebagai media komunikasi. Menjelang penyelenggaraan Asian Games IV, Pemerintah memasukkan proyek televisi. Sejak tahun 1962 inilah Televisi Republik Indonesia muncul dengan teknologi layar hitam putih. Masa kekuasaan Presiden Soeharto, banyak terjadi pembredelan media massa. Kasus Harian Indonesia Raya dan Majalah Tempo merupakan dua contoh kentara dalam sensor kekuasaan ini. Kontrol ini dipegang melalui Departemen Penerangan dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Hal inilah yang kemudian memunculkan Aliansi Jurnalis Indepen yang mendeklarasikan diri di Wisma Tempo Sirna Galih, Jawa Barat. Beberapa aktivisnya dimasukkan ke penjara.
Titik kebebasan pers mulai terasa lagi saat BJ Habibie menggantikan Soeharto. Banyak media massa yang muncul kemudian dan PWI tidak lagi menjadi satu-satunya organisasi profesi.

Ciri Ciri yang perlu diperhatikan dalam Jurnalistik nih
  • Skeptis
Skeptis adalah sikap untuk selalu mempertanyakan segala sesuatu, meragukan apa yang diterima, dan mewaspadai segala kepastian agar tidak mudah tertipu *tuh, ati ati ketipu*. Inti dari skeptis adalah keraguan. Media janganlah puas dengan permukaan sebuah peristiwa serta enggan untuk mengingatkan kekurangan yang ada di dalam masyarakat. Wartawan haruslah terjun ke lapangan, berjuang, serta menggali hal-hal yang eksklusif. 
  • Bertindak (action)
Wartawan tidak menunggu sampai peristiwa itu muncul, tetapi ia akan mencari dan mengamati dengan ketajaman naluri seorang wartawan. 
  • Berubah
Perubahan merupakan hukum utama jurnalisme. Media bukan lagi sebagai penyalur informasi, tapi fasilitator, penyaring dan pemberi makna dari sebuah informasi. 
  • Seni dan Profesi
Wartawan melihat dengan mata yang segar pada setiap peristiwa untuk menangkap aspek-aspek yang unik.
  • Peran Pers
Pers sebagai pelapor, bertindak sebagai mata dan telinga publik, melaporkan peristiwa-peristiwa di luar pengetahuan masyarakat dengan netral dan tanpa prasangka. Selain itu, pers juga harus berperan sebagai interpreter, wakil publik, peran jaga, dan pembuat kebijaksanaan serta advokasi. 

 Langkah-langkah untuk interview jurnalistik


Wawancara atau interview merupakan kemampuan dasar jurnalistik yang sangat penting. Wawancara bagi televisi atau radio merupakan bagian dari “Show” sehingga tidak terpisahkan dari kinerja media. Kemampuan wawancara jurnalistik ini dapat disaksikan langsung dan seberapa jauh kualitas wawancara dapat disaksikan langsung.
Di sejumlah negara acara wawancara ini bahkan menjadi pertunjukan tersendiri yang sangat penting dan ditunggu-tunggu. Para pewawancara yang sering disebut Talk Show jadi acara menarik, Sekarang banyak kan tuh ya di Indonesia Talk show Talk show gitu. Apaan aja dibahas cuy, sampe yang ga terlalu penting buat publik juga di Share aje. Ini dia langkah langkah Interview :
  • Decide whom to interview
Penting sekali menentukan siapa yang akan Anda wawancara dalam sebuah kasus atau peristiwa. Misalnya siapa yang langsung terlibat dalam peristiwa itu? Siapa yang terkena akibat dari peristiwa itu (misalnya penggusuran)? Siapa yang bertanggung jawab atas kejadian peristiwa itu (misalnya jatuhnya pesawat Adam Air)
  • Persuade reluctant sources
Nara sumber wawancara seharusnya dapat dibujuk untuk memberikan keterangan. Ada beberapa alasan mengapa mereka tidak mau bicara.
a. Mereka tidak memiliki waktu. Maka tawarkan tempat dan waktu yang nyaman bagi mereka. Kita akan datang ke tempat mereka dan kita akan membatasi waktu wawancara.
b. Mereka takut memberikan keterangan. Jelaskan apa yang Anda inginkan. Jelaskan mengapa keterangan mereka itu penting. Kalau mereka takut memberikan wawancara, jangan buat kata-kata “wawancara”, buatlah istilah mau bicara atau ngobrol.
c. Mereka tidak tahun apa yang dikatakan. Mungkin Anda memilih sumber yang salah atau mungkin tidak jelas mengenai apa keinginan Anda. Jelaskan apa yang diinginkan. Mengenai wawancara dengan anak-anak perhatikan unsur-unsur hukum dan etika.
d. Mereka dilindungi. Nara sumber penting ini kadang-kadang terhalang oleh sekretaris, orang humas atau ajuan. Jika memungkinkan tulislah surat permohonan langsung. Atau telepon mereka sesudah bekerja. Jika ada kesempatan menyaksikan mereka bermain olahraga, datangi dengan sopan, siapa tahu bisa. Atau bisa juga didatangi ketika hadir dalam sebuah acara.
  • Prepare for interviews
Adakan penelitian kecil-kecilan mengenai orang yang akan dihadapi. Tanyakan kepada orang lain mengenai nara sumber itu, baca pula tulisan mengenai dirinya. Jika Anda berhadapan dengan orang terkenal, jangan ajukan pertanyaan sama seperti jurnalis lainnya. Ajukan dengan cara dan pandang yang baru. Gunakan pula kekuatan internet untuk menggali data atau bicara dengan rekan jurnalis lainnya.
Selain mengkaji orang yang akan didatangi, Anda juga sebaiknya meneliti topik yang akan dijadikan wawancara. Pengetahuan yang cukup mengenai topik wawancara akan memberi Anda kredibilitas dimata nara sumber. Semakin banyak diketahui topik yang akan dibicarakan, semakin baik liputannya.
  • Know your purpose
Ketahuilah tujuan Anda sebenarnya wawancara itu. Apakah Anda menginginkan wawancara untuk mendapatkan informasi faktual atau apakah Anda ingin hanya reaksi dan tanggapan terhadap situasi tertentu. Bisa pula tujuan wawancara itu untuk mendapatkan pengertian mendalam mengenai seseorang. Tujuan wawancara ini akan memudahkan menyiapkan pertanyaan-pertanyaan.

Ini dia nih, kalau mau dibuat Berita harus perhatiin ini juga. Sebelum itu,baca dulu pengertian berita nih.
Berita adalah informasi baru atau informasi mengenai sesuatu yang sedang terjadi, disajikan lewat bentuk cetak, siaran, Internet, atau dari mulut ke mulut kepada orang ketiga atau orang banyak. Laporan berita merupakan tugas profesi wartawan. Banyak kota besar memiliki surat kabar pagi dan petang. Stasiun televisi biasanya memiliki acara berita atau menayangkan berita sepanjang waktu. Kebutuhan akan berita diamati dalam berbagai masyarakat, baik yang melek huruf maupun yang buta huruf.

Anatomi Berita dan Unsur-Unsur

Seperti tubuh kita, berita juga mempunyai bagian-bagian sebagai berikut.
  • Judul atau kepala berita (headline).
  • Baris tanggal (dateline).
  • Teras berita (lead atau intro).
  • Tubuh berita (body).
Bagian-bagian di atas tersusun secara terpadu dalam sebuah berita. Susunan yang paling sering didengar ialah susunan piramida terbalik. Metode ini lebih menonjolkan inti berita saja. Tujuannya adalah untuk memudahkan atau mempercepat pembaca dalam mengetahui apa yang diberitakan; juga untuk memudahkan para redaktur memotong bagian tidak/kurang penting yang terletak di bagian paling bawah dari tubuh berita (Budiman 2005). Dengan senantiasa meminimalkan aspek nonfaktual yang pada kecenderuangan akan menjadi sebuah opini. Untuk itu, sebuah berita harus memuat "fakta" yang di dalamnya terkandung unsur-unsur 5W + 1H. Hal ini senada dengan apa yang dimaksudkan oleh Lasswell, salah seorang pakar komunikasi (Masri Sareb 2006: 38).
1. Who - siapa yang terlibat di dalamnya?
2. What - apa yang terjadi di dalam suatu peristiwa?
3. Where - di mana terjadinya peristiwa itu?
4. Why - mengapa peristiwa itu terjadi?
5. When - kapan terjadinya?
6. How - bagaimana terjadinya?

Sumber Berita

Hal penting lain yang dibutuhkan dalam sebuah proses jurnalistik adalah pada sumber berita. Ada beberapa petunjuk yang dapat membantu pengumpulan informasi, sebagaimana diungkapkan oleh Eugene J. Webb dan Jerry R. Salancik (Luwi Iswara 2005: 67) berikut ini.
1. Observasi langsung dan tidak langsung dari situasi berita.
2. Proses wawancara.
3. Pencarian atau penelitian bahan-bahan melalui dokumen publik.
4. Partisipasi dalam peristiwa.
Yang diperlukan untuk masuk dalam dunia jurnalistik meliputi hal-hal berikut:
• Minat
• Skill
• Tindakan (bertindak menuju dunia jurnalistik dengan banyak menulis). Identifikasi minat.

Kurang lebih seperti itu,sekarang gua mau balik lagi ke Jurnalistiknya itu.

1.    Kewajiban utama jurnalisme adalah pencarian kebenaran.
Sebagai seorang wartawan kita harus selalu menjunjung kebenaran. Dalam hal ini kebenaran secara fungsional yang tentunya sesuai dengan tugasnya seorang wartawan.
Seorang wartawan yang tidak menjunjung faktor kebenaran dalam liputannya, tentu saja akan merugikan banyak pihak, terutama publik yang  mnejadi korban dari pemberitaan itu. Belum lagi perusahaan yang menjadi kehilangan harga diri sebagai media yang seharusnya menyampaikan kebenaran.
Kebenaran dalam jurnalisme sangat sakral maknanya. Wartawan bertanggung jawab pada publik atas kebenaran yang disampaikannya. Jadi apapun yang terjadi kebenaran adalah hal yang utama yang harus disampaikan oleh wartawan.
Untuk mendapat sebuah kebenaran merupakan sebuah resiko yang dilakukan oleh seorang wartawan, mengingat proses untuk mendapatkan kebenaran itu memerlukan waktu yang panjang. Dia benar – benar dituntut untuk bekerja keras. Medan yang terjal tak jarang di temui oleh wartawan dalam proses peliputan.
Perlu keterampilan – keterampilan khusus wartawan dalam melakukan peliputan dengan narasumber yang berbeda-beda, dari mulai yang ecek-ecek sampai yang professional. Namun, bagaimanapun wartawan harus bertanggung jawab atas berita yang disampaikannya yang tentunya harus mutlak benar. Dengan begitu kita ketahui kenapa elemen pertama dari jurnalisme adalah sebuah kebenaran.
Terkadang prinsip kebenaran terbengkalai manakala media tempat wartawan bekerja menuntut wartawan menghasilkan berita yang sensasional yang beda dari yang lain.

2.    Loyalitas utama jurnalisme adalah pada warga negara.
Loyalitas wartawan seharusnya berujung pada publik, sebagai pembaca dari apa yang kita beritakan. Yang harus selalu diingat oleh wartawan adalah bagaimana membuat suatu berita yang menarik bagi pembaca yang menjunjung kebenaran, dan bagaimana bertanggung jawab pada publik jika berita yang dibuat hanya fiktif padahal sudah jelas yang akan membaca suatu media bukan hanya sekelompok orang, tapi semua orang di bangsa ini bahkan di seluruh dunia.
Media yang jujur, yang lebih memntingkan kepentingan publik lebih menguntungkan perusahaan tersebut, tak hanya soal prestisius, tapi soal financial juga menjadi lebih baik. Kepercayaan yang diberikan publik pada media jangan sampai hilang akibat satu berita bohong dari oknum wartawan.
Padahal untuk memberikan suatu beruta yang benar – benar terjadi, tidak terlalu sulit. Hanya langjkah -langkah sederhana yang harus dilakukan oleh wartawan seperti , liputan, penelusuran sumber berita, wawancara , memilih sumber yang kompeten terhadap kasus yang diangkat. Langkah  - langkah sederhana itu tentunya akan menghindarkan kita dari kebohongan publik. Kita sebagai wartawan dan media seharusnya menyadari arti dari peribahasa akibat nila setitik rusak susu sebelanga. Akibat satu kesalahan tercemarlah nama baik perusahaan.

3.    Esensi jurnalisme adalah disiplin verifikasi.
Dengan adanya disiplin verifikasi yang dilakukan wartawan fiktifisasi narasumber tudak akan terjadi. Batas antara fiksi dan jurnalisme harus jelas, jurnalisme tidak bisa digabungkan dengan fiksi. Semuanya harus fakta dan nyata.
Verifikasi itu bersifat personal, oleh karenanya masalah yang hadir adalah standar verifikasi sendiri. Keobjektifan sebuah berita biasanya sering dikaitkan dengan didiplin verifikasi itu sendiri. Padahal, mungkin saja wartawan tidak bisa objektif meskipun harus kita lihat dari sisi manusiawinya tentang latar belakang wartawan tersebut yang berbeda – beda.
Kovach dan Rosenstiel menawarkan lima konsep dalam verifikasi:
•    Jangan menambah atau mengarang apa pun;
•    Jangan menipu atau menyesatkan pembaca, pemirsa, maupun pendengar;
•    Bersikaplah setransparan dan sejujur mungkin tentang metode dan motivasi anda dalam melakukan reportase;
•    Bersandarlah terutama pada reportase Anda sendiri;
•    Bersikaplah rendah hati.
Metode yang kongkrit dalam melakukan verifikasi itu. Pertama, penyuntingan secara skeptis..Kedua, memeriksa akurasi. Ketiga, jangan percaya pada sumber-sumber resmi begitu saja. Keempat, pengecekan fakta.

4.    Jurnalis harus menjaga independensi dari objek liputanya.
Dalam melakukan suatu peliputan, wartawan harus benar-benar independen, melakukan peliputan secara obektif. Tidak terpengaruh pada apapun, kepentingan siapapun, kecuali kepentingan bahwa kita adalah wartwan yang harus menyampaikan berita yang benar – benar terjadi untuk disampaikan pada masyarakat. Tidak peduli siapapun, apapun. Bahkan jika itu menyangkut keluarga kita, dan kita harus memberitakannya jangan anggap itu keluarga. Wartawan harus bertanggung jawab pada publik itu penting dan harus selalu di ingat.
Semangat independensi harus dijunjung tinggi oleh setiap wartawan. Dengan menjunjung kebenaran seperti inilah yang membedakan wartawan dengan profesi lainnya. Intinya independensi wartawan itu membedakan profesi wartwan dengan yang lainnya.

5.    Jurnalis harus membuat dirinya sebagai pemantau  independen dari kekuasaan.
Dalam memantau kekuasaan, bukan berarti wartawan menghancurkan kekuasaan. Namun tugasnya wartawan sebagai pemantau kekuasaan yaitu turut seta dalam penegakkan demokrasi.
Salah satu dalam cara memantau ini adalah melakukan investigatif reporting. Inilah yang sering menjadi masalah antar wartawan dengan penguasa. Biasanya banyak penguasa yang enggan privasi tentang dirinya dipublikasikan. Namun hal itulah yang harus diketahui oleh rakyat.
Dalam melakukan investigasi terhadap sebuah kasus , seharusnya media melakukan dengan hati – hati. Tak seperti laporan biasanya, penelusuran narasumber benar – benar harus teliti dan apik.
   
6.    Jurnalis harus memberi forum bagi publik untuk saling kritik dan menemukan kompromi.
Seorang wartawan yang bertanggung jawab pada publik  harus mendengarkan apa keinginan publik itu sendiri. Wartawan harus terbuka pada publik untuk mendengarkan segala sesuatunya. Logikanya setiap orang boleh berpendapat dan memiliki rasa ingintahu yang sama. Jadi jika ada anggota publik yang ingin lebih mengetahui dalam sebuah kasus bisa menanyakannya. Bahkan sekarang ini di setiap media cetak disediakan ruang publik seperti surat pembaca. Atau di media elektronik, terdapat alamat fax atau nomor yang disediakan untuk menanggapi atau memberikan komentar.

7.    Jurnalis harus berusaha membuat hal yang penting menjadi menarik dan     relevan.
Wartawan harus tahu tentang komposisi, tentang etika, tentang naik turunnya emosi pembaca dan sebagainya. Berita yang dibuat jangan sampai membosankan bagi pembaca. Jangan sampai berita yang penting jadi tidak penting karena pembaca bosan.   
Berita itu dibuat tidak membosankan dan harus memikat tetapi tetap   relevan. Ironisnya, dua faktor ini justru sering dianggap dua hal yang bertolak belakang. Laporan yang memikat dianggap laporan yang lucu, sensasional, menghibur, dan penuh tokoh selebritas. Tapi laporan yang relevan dianggap kering, angka-angka, dan membosankan.

8.    Jurnalis harus membuat berita yang komprehensif dan proporsional.
Perlu banyak hal yang dilakukan untuk mendapatkan dan membuat berita yang komprehensive dan proposional. Wartawan tidak hanya menerima fakta yang mudah diraih. Harus ada sesuatu yang menantang dari pekerjaan wartawan pelaporan ivestigasi mewakili berita yang komprehensif dan proposional ini.
Wartawan harus tahu bagaimana caranya melaporkan suatu hal yang bermutu. Berita yang komprehensif bukan berita yang hanya punya judul sensasional  Berita sensasionalhasnya akan memalukan wartwan dan media yang menerbitkannya.

9.    Jurnalis harus diperbolehkan untuk mendengarkan hati nurani pribadinya.
Segala sesuatu yang berasal dari hati nurani akan lebih baik dari apapun. Dari persoalan yang terjadi didalam kehidupan wartawan jawabnnya adalah bersumber pada hati nurani. Wartawan yang berbohong, melakukan fiktifisasi narasumber atau apaun kejahilan seorang wartawan benar – benra harus bersumber pada hati nurani. Sebagai manusia biasa yang tak luput dari kesalahan, seorang wartawan harus mendasarkan segala sesuatunya pada hati nurani.
Setiap individu reporter harus menetapkan kode etiknya sendiri, standarnya sendiri dan berdasarkan model itulah dia membangun karirnya. Menjalankan prinsip itu tak mudah karena membutuhkan suasana kerja yang aman dan nyaman, yang bebas dimana setiap orang bisa berpendapat. - See more at: http://fitrienurani.blogspot.co.id/2013/05/sembilan-elemen-jurnalistik.html#sthash.xa91tVeL.dpuf

  • Kewajiban utama jurnalisme adalah pada pencarian kebenaran.
Kebenaran dibentuk hari demi hari, lapisan demi lapisan. Ibarat stalagmit, tetes demi tetes kebenaran itu membentuk stalagmit yang besar. Prosesnya memakan waktu yang lama, tetapi dari kebenaran yang sehari-hari tersebut dapat terbentuk bangunan kebenaran yang lebih lengkap.

Dalam hal ini seorang jurnalisme mencari kebenaran bukan dalam tataran filosofis, tapi kebenaran dalam tataran fungsional. Sebagai contoh tabrakan lalu lintas. Hari pertama seorang wartawan memberitakan kecelakaan itu. Dimana, jam berapa, jenis kendaraan apa, nomor polisi berapa, korbannya bagaimana. Hari kedua berita itu mungkin ditanggapi oleh pihak lain, mungkin polisi, mungkin keluarga korbannya. Mungkin ada koreksi, maka pada hari ketiga koreksi itulah yang diberitakan. Ini juga bertambah jika ada pembaca, atau ada tanggapan lewat kolom opini.


  • Loyalitas utama jurnalisme adalah pada warga negara.

“kepada siapa wartawan harus menempatkan loyalitasnya? Pada perusahaannya? Pada pembacanya? Atau pada masyarakat?”

Pertanyaan itu penting karena sejak 1980-an banyak wartawan Amerika yang berubah jadi orang bisnis. Sebuah survei menemukan separuh wartwan Amerika menghabiskan setidaknya sepertiga waktu mereka buat urusan manajemen dari pada jurnalisme. Ini memprihatinkan karena wartawan mempunyai tanggung jawab sosial yang tidak jarang bisa lebih penting dari pada perusahaan diaman mereka bekerja. Uniknya tsnggung jawab itu sekaligus adalah sumber dari keberhasilan perusahaan mereka. Banyak perusahaan media yang mendahulukan kepentingan masyarakat justru lebih menguntungkan dari pada yang hanya mementingkan bisnisnya sendiri.

Dalam bisnis media ada sebuah segitiga. Segi pertama adalah pembaca, pemirsa/pendengar. Sisi kedua adalah pemasang iklan, sedangkan sisi ketiga adalah warga (citizens). Pemirsa, pendengar/pemirsa bukanlah pelanggan, media memberikan berita secara gratis. Sedangkan pemasang iklan adalah pelanggan. Perusahaan media mengkaitkan besarnya bonus/pendapatan redaktur mereka dengan besar keuntungan yang diperoleh perusahaan. Sebenarnya hal ini bisa menghilangkan tanggung jawab sosial para redaktur. Mengkaitkan pendapatan seorang redaktur dengan penjualan iklan/keuntungan perusahaan sangat mungkin untuk mengingkari prinsip loyalitas redaktur terhadap masyarakat. Loyalitas mereka bisa bergeser pada peningkatan keuntungan perusahaan karena dari sana pula mereka mendapatkan bonus.


  • Esensi jurnalisme adalah disiplin verifikasi.

Disiplin mampu membuat wartawan menyaring desas-desus, gosip, ingatan yang keliru, manipulasi, guna mendapatkan informasi yang akurat. Disiplin verifikasi inilah yang membedakan jurnalisme dengan hiburan, propaganda, fiksi/seni. Tujuan dari disiplin verifikasi adalah untuk mencapai kebenaran.


  • Jurnalis harus menjaga independensi dari objek liputannya.

Wartawan harus bersikap independen terhadap orang-orang yang mereka liput. Semangat dan pikiran untuk bersikap independen lebih penting dari apapun. Tapi wartawan yang beropini juga harus tetap menjaga akurasi dari data-datanya. Mereka harus tetap melakukan verifikasi, mengabdi pada kepentingan masyarakat, dan memenuhi berbagai ketentuan lain yang harus ditaati seorang wartawan.

Independensi harus dijunjung tinggi diatas identitas lain seorang wartawan. Jadi sebagai wartawan kita harus sebisa mungkin bersikap independen, tanpa takut dan tanpa tekanan, tanpa konflik kepentingan.


  • Jurnalis harus membuat dirinya sebagai pemantau independen dari kekuasaan.

Salah satu cara yang dilakukan wartawan dalam pemantauan adalah dengan melakukan investigative reporting yaitu sebuah jenis reportase dimana si wartawan berhasil menunjukkan siapa yuang salah, siapa yang melakukan pelanggaran hukum, yang seharusnya jadi terdakwa, dalam suatu kejahatan publik yang sebelumnya dirahasiakan.

Salah satu konsekuensi dari investigasi adalah kecenderungan media bersangkutan mengambil sikap terhadap isu dimana mereka melakukan investigasi. Ada yang memakai istilah advocacy reporting untuk mengganti istilah investigative reporting karena adanya kecenderungan ini. Padahak hasil investigasi bisa salah, dan dampak yang ditimbulkan sangat besar. Tidah hanya orang-orang yang didakwa dibuat menderita tapi juga reputasi media yang bersangkutan bisa tercemar. Mungkin karena resiko ini, banyak media besar serba tanggung dalam melakukan investigasi. Media lebih suka memperdagangkan labelnya saja tapi tidak benar-benar masuk kedalam investigasi.


  • Jurnalis harus memberi forum bagi publik untuk saling kritik dan menemukan kompromi.

Forum publik merupakan media dimana orang-orang bisa menyampaikan pendapatnya, kritiknya, dan sebagainya. Dalam forum publik ini setiap orang dapat menyalurkan aspirasinya, berupa kritikan, pendapat, dan lain-lain untuk mengungkapkan suatu kebenaran dari sebuah berita dimedia.

Dengan teknologi modern membuat forum ini semakin bernuansa. Sekarang ada siaran langsung televisi maupun chatroom di internet. Tapi kecepatan yang menyertai teknologi baru ini juga meningkatkan kemampuan terjadinya distorsi maupun informasi yang menyesatkan sehingga dapat merusak reputasi jurnalisme.


  • Jurnalis harus berusaha membuat hal penting menjadi menarik dan relevan.

Menarik dan relevan dianggap sebagai dua hal yang bertolak belakang. Laporan yang menarik dianggap sebagai laporan yang lucu, sensasional, menghibur, dan penuh dengan tokoh selebritas. Sedangkan laporan yang relevan dianggap sebagai berita yang kering, angka-angka, dan membosankan. Padahal masyarakat menginginkan kedua faktor tersebut terdapat didalam berita yang dikonsumsinya. Tetapi banyak wartawan (media) yang lebih suka menekankan sensasi dari suatu berita dari pada isu yang relevan.


  •  Jurnalis harus membuat berita yang komprehensif dan proporsional.

Elemen ini bisa terpenuhi oleh wartawan jika wartawan tersebut tidak hany menerima fakta yang tidak terlalu mudah untuk diraih. Jadi wartawan harus terus menerus menggali lebih jauh fakta- fakta dan menyusunnya dalam sebuah konteks. Ia harus pintar-pintar memilih berita mana yang diangkat, berita mana yang penting, berita mana yang dijadikan berita utama. Dalam pemilihan berita harus subjektif karena wartawan harus senantiasa ingat agar proporsional dalam menyajikan berita.


  • Jurnalis harus diperbolehkan mendengarkan hati nurani personalnya.
Wartawan yang independen adalah wartawan yang bisa exercise hati nuraninya tanpa tekanan dan tanpa iming-iming, termasuk tekanan atasan dan tekanan kehilangan pekerjaan. Jika seorang wartawan meyakini suatu kebenaran, tapi dia takut mengungkapkanya itu sama saja bohong. Seorang wartawan harus berani mengungkapkan suatu kebenaran, karena wartawan itu sendiri adalah independen.


Sembilan Elemen ini Dikutip dari buku Bill kovach dan Tom Rosenstiel, Oh ya sebagai penutup. Gua ada bacaan semacem tips gitu siapa tau terdorong gitu.



"Salah satu tip untuk memasuki dunia jurnalistik adalah kesiapan dari dalam diri kita. Apakah kita benar-benar senang melihat bagaimana kesibukan para wartawan, presenter televisi atau radio, dan berbagai tokoh jurnalistik berbicara soal media? Jika ya, maka teruskan pada tahap berikutnya. Mengapa minat menggebu ini penting? Karena dengan modal inilah semua kesulitan bisa diselesaikan. Minat yang tinggi dinggal digabung dengan skills, misalnya membuat cv dan wawancara.


Jika minat sudah ada, maka mulailah bertindak menuju dunia jurnalistik dengan banyak menulis, banyak membuat analisa, dan membuat opini di media massa di kota Anda. Identifikasi minat Anda. Bila bermimat di dunia sastra, mulailah dengan menulis puisi, prosa, atau cerpen. Mulailah sekarang juga apalagi bagi yang akan lulus. Tulisan Anda di sebuah media daerah atau bahkan media nasional akan memperkuat bobot Anda dibandingkan dengan rekan lainnya ketika sama-sama mengajukan lamaran ke sebuah perusahaan. Jika tidak bisa dimuat, saran Mochtar Lubis, buatlah tulisan setiap hari – sekali lagi setiap hari – di buku harian Anda. Membiasakan memberi komentar dan deskripsi akan memberikan kekuatan dan modal penting dalam liputan di masa datang. Saran Mochtar Lubis – tokoh sastra ini – sangatlah berarti karena begitu Anda memang tuts komputer atau pena, kadang-kadang Anda tidak berani mengungkapkan perasaan, opini atau argumentasi. Anda menjadi pemalu.
Nah bagaimana Anda bisa pemalu menulis komentar tentang peristiwa di sekitar Anda mulai dari kasus korupsi, banjur, got mampet, kemarau panjang dan angkot yang tidak disiplin, kalau bisa berbicara dan berdebat dengan rekan Anda tentang suatu masalah yang lagi hot. Kebiasaan menulis buku harian – tidak selalu tentang romantisme Anda – mengenai topik sosial, nasional dan internasional akan membuat Anda terbiasa dan terbuka dalam mengajuka pendapat. Anda juga bisa terbiasa menuliskan secara runtut dan logis. Bila sudah selesai, kaji dan baca kembali. Siapa tahu memang dari situ kelihatan bakat Anda dalam penulisan. Tidak selalu tentu tulisan pertama akan menjadi karya yang terpuji, tetapi Anda telah mengawali langkah untuk memasuki karir di dunia jurnalistik.
Sekali lagi mulailah menulis. Tulis apa saja, beri komentar apa saja. Lalu perlahan-lahan buatlah ulasan terhadap peristiwa yang menarik minat Anda. Keluarkanlah seluruh pengetahuan dan daya analisa Anda, niscaya ini akan menuntun ke dunia lebih luas dalam tahap awal dunia jurnalistik.
Jangan menyerah jika selama satu hari, Anda tidak menulis apapun karena merasa buntu pikiran. Saat kesulitan seperti itulah yang menentukan apakah Anda menyerah atau terus maju”.






Jadi gimana, Tertarik untuk masuk ke dalam dunia Jurnalistik? Silahkan tuangkan saran atau komennya di kolom komentarnya yaa:)
1.    Kewajiban utama jurnalisme adalah pencarian kebenaran.
Sebagai seorang wartawan kita harus selalu menjunjung kebenaran. Dalam hal ini kebenaran secara fungsional yang tentunya sesuai dengan tugasnya seorang wartawan.
Seorang wartawan yang tidak menjunjung faktor kebenaran dalam liputannya, tentu saja akan merugikan banyak pihak, terutama publik yang  mnejadi korban dari pemberitaan itu. Belum lagi perusahaan yang menjadi kehilangan harga diri sebagai media yang seharusnya menyampaikan kebenaran.
Kebenaran dalam jurnalisme sangat sakral maknanya. Wartawan bertanggung jawab pada publik atas kebenaran yang disampaikannya. Jadi apapun yang terjadi kebenaran adalah hal yang utama yang harus disampaikan oleh wartawan.
Untuk mendapat sebuah kebenaran merupakan sebuah resiko yang dilakukan oleh seorang wartawan, mengingat proses untuk mendapatkan kebenaran itu memerlukan waktu yang panjang. Dia benar – benar dituntut untuk bekerja keras. Medan yang terjal tak jarang di temui oleh wartawan dalam proses peliputan.
Perlu keterampilan – keterampilan khusus wartawan dalam melakukan peliputan dengan narasumber yang berbeda-beda, dari mulai yang ecek-ecek sampai yang professional. Namun, bagaimanapun wartawan harus bertanggung jawab atas berita yang disampaikannya yang tentunya harus mutlak benar. Dengan begitu kita ketahui kenapa elemen pertama dari jurnalisme adalah sebuah kebenaran.
Terkadang prinsip kebenaran terbengkalai manakala media tempat wartawan bekerja menuntut wartawan menghasilkan berita yang sensasional yang beda dari yang lain.

2.    Loyalitas utama jurnalisme adalah pada warga negara.
Loyalitas wartawan seharusnya berujung pada publik, sebagai pembaca dari apa yang kita beritakan. Yang harus selalu diingat oleh wartawan adalah bagaimana membuat suatu berita yang menarik bagi pembaca yang menjunjung kebenaran, dan bagaimana bertanggung jawab pada publik jika berita yang dibuat hanya fiktif padahal sudah jelas yang akan membaca suatu media bukan hanya sekelompok orang, tapi semua orang di bangsa ini bahkan di seluruh dunia.
Media yang jujur, yang lebih memntingkan kepentingan publik lebih menguntungkan perusahaan tersebut, tak hanya soal prestisius, tapi soal financial juga menjadi lebih baik. Kepercayaan yang diberikan publik pada media jangan sampai hilang akibat satu berita bohong dari oknum wartawan.
Padahal untuk memberikan suatu beruta yang benar – benar terjadi, tidak terlalu sulit. Hanya langjkah -langkah sederhana yang harus dilakukan oleh wartawan seperti , liputan, penelusuran sumber berita, wawancara , memilih sumber yang kompeten terhadap kasus yang diangkat. Langkah  - langkah sederhana itu tentunya akan menghindarkan kita dari kebohongan publik. Kita sebagai wartawan dan media seharusnya menyadari arti dari peribahasa akibat nila setitik rusak susu sebelanga. Akibat satu kesalahan tercemarlah nama baik perusahaan.

3.    Esensi jurnalisme adalah disiplin verifikasi.
Dengan adanya disiplin verifikasi yang dilakukan wartawan fiktifisasi narasumber tudak akan terjadi. Batas antara fiksi dan jurnalisme harus jelas, jurnalisme tidak bisa digabungkan dengan fiksi. Semuanya harus fakta dan nyata.
Verifikasi itu bersifat personal, oleh karenanya masalah yang hadir adalah standar verifikasi sendiri. Keobjektifan sebuah berita biasanya sering dikaitkan dengan didiplin verifikasi itu sendiri. Padahal, mungkin saja wartawan tidak bisa objektif meskipun harus kita lihat dari sisi manusiawinya tentang latar belakang wartawan tersebut yang berbeda – beda.
Kovach dan Rosenstiel menawarkan lima konsep dalam verifikasi:
•    Jangan menambah atau mengarang apa pun;
•    Jangan menipu atau menyesatkan pembaca, pemirsa, maupun pendengar;
•    Bersikaplah setransparan dan sejujur mungkin tentang metode dan motivasi anda dalam melakukan reportase;
•    Bersandarlah terutama pada reportase Anda sendiri;
•    Bersikaplah rendah hati.
Metode yang kongkrit dalam melakukan verifikasi itu. Pertama, penyuntingan secara skeptis..Kedua, memeriksa akurasi. Ketiga, jangan percaya pada sumber-sumber resmi begitu saja. Keempat, pengecekan fakta.

4.    Jurnalis harus menjaga independensi dari objek liputanya.
Dalam melakukan suatu peliputan, wartawan harus benar-benar independen, melakukan peliputan secara obektif. Tidak terpengaruh pada apapun, kepentingan siapapun, kecuali kepentingan bahwa kita adalah wartwan yang harus menyampaikan berita yang benar – benar terjadi untuk disampaikan pada masyarakat. Tidak peduli siapapun, apapun. Bahkan jika itu menyangkut keluarga kita, dan kita harus memberitakannya jangan anggap itu keluarga. Wartawan harus bertanggung jawab pada publik itu penting dan harus selalu di ingat.
Semangat independensi harus dijunjung tinggi oleh setiap wartawan. Dengan menjunjung kebenaran seperti inilah yang membedakan wartawan dengan profesi lainnya. Intinya independensi wartawan itu membedakan profesi wartwan dengan yang lainnya.

5.    Jurnalis harus membuat dirinya sebagai pemantau  independen dari kekuasaan.
Dalam memantau kekuasaan, bukan berarti wartawan menghancurkan kekuasaan. Namun tugasnya wartawan sebagai pemantau kekuasaan yaitu turut seta dalam penegakkan demokrasi.
Salah satu dalam cara memantau ini adalah melakukan investigatif reporting. Inilah yang sering menjadi masalah antar wartawan dengan penguasa. Biasanya banyak penguasa yang enggan privasi tentang dirinya dipublikasikan. Namun hal itulah yang harus diketahui oleh rakyat.
Dalam melakukan investigasi terhadap sebuah kasus , seharusnya media melakukan dengan hati – hati. Tak seperti laporan biasanya, penelusuran narasumber benar – benar harus teliti dan apik.
   
6.    Jurnalis harus memberi forum bagi publik untuk saling kritik dan menemukan kompromi.
Seorang wartawan yang bertanggung jawab pada publik  harus mendengarkan apa keinginan publik itu sendiri. Wartawan harus terbuka pada publik untuk mendengarkan segala sesuatunya. Logikanya setiap orang boleh berpendapat dan memiliki rasa ingintahu yang sama. Jadi jika ada anggota publik yang ingin lebih mengetahui dalam sebuah kasus bisa menanyakannya. Bahkan sekarang ini di setiap media cetak disediakan ruang publik seperti surat pembaca. Atau di media elektronik, terdapat alamat fax atau nomor yang disediakan untuk menanggapi atau memberikan komentar.

7.    Jurnalis harus berusaha membuat hal yang penting menjadi menarik dan     relevan.
Wartawan harus tahu tentang komposisi, tentang etika, tentang naik turunnya emosi pembaca dan sebagainya. Berita yang dibuat jangan sampai membosankan bagi pembaca. Jangan sampai berita yang penting jadi tidak penting karena pembaca bosan.   
Berita itu dibuat tidak membosankan dan harus memikat tetapi tetap   relevan. Ironisnya, dua faktor ini justru sering dianggap dua hal yang bertolak belakang. Laporan yang memikat dianggap laporan yang lucu, sensasional, menghibur, dan penuh tokoh selebritas. Tapi laporan yang relevan dianggap kering, angka-angka, dan membosankan.

8.    Jurnalis harus membuat berita yang komprehensif dan proporsional.
Perlu banyak hal yang dilakukan untuk mendapatkan dan membuat berita yang komprehensive dan proposional. Wartawan tidak hanya menerima fakta yang mudah diraih. Harus ada sesuatu yang menantang dari pekerjaan wartawan pelaporan ivestigasi mewakili berita yang komprehensif dan proposional ini.
Wartawan harus tahu bagaimana caranya melaporkan suatu hal yang bermutu. Berita yang komprehensif bukan berita yang hanya punya judul sensasional  Berita sensasionalhasnya akan memalukan wartwan dan media yang menerbitkannya.

9.    Jurnalis harus diperbolehkan untuk mendengarkan hati nurani pribadinya.
Segala sesuatu yang berasal dari hati nurani akan lebih baik dari apapun. Dari persoalan yang terjadi didalam kehidupan wartawan jawabnnya adalah bersumber pada hati nurani. Wartawan yang berbohong, melakukan fiktifisasi narasumber atau apaun kejahilan seorang wartawan benar – benra harus bersumber pada hati nurani. Sebagai manusia biasa yang tak luput dari kesalahan, seorang wartawan harus mendasarkan segala sesuatunya pada hati nurani.
Setiap individu reporter harus menetapkan kode etiknya sendiri, standarnya sendiri dan berdasarkan model itulah dia membangun karirnya. Menjalankan prinsip itu tak mudah karena membutuhkan suasana kerja yang aman dan nyaman, yang bebas dimana setiap orang bisa berpendapat. - See more at: http://fitrienurani.blogspot.co.id/2013/05/sembilan-elemen-jurnalistik.html#sthash.xa91tVeL.dpuf