Aku lupa pastinya hubungan kami berapa lama, tidak terlalu lama dan tidak terlalu cepat. Tapi, seperti yang lainnya. Masa PDKT cukup asik, kami sama sama single dan sudah lamaa banget bertahun tahun ga punya hubungan atau pacaran lah, Jadi semuanya berjalan lancar. Satu-satunya orang yang telah memenangkan hatiku dari beberapa yang telah berusaha merebutnya saat itu, ya dia. Agar mempermudah cerita ini, kita sebut saja dia sebagai Awan. Proses PDKT feels so easy, karena kami punya banyak kemiripan. Tau kan orang yang udah lama ga punya hubungan, tiba tiba masuk ke sebuah hubungan? Mungkin perbedaan yang terasa banget, transisi dari PDKT ke pacaran. Jadi banyak hal yang ga asik lagi mungkin? mulai keliatan sisi sedih, gelap, rapuh dan hal hal yang di PDKT ga teraba. Saat itu pun aku full dengan diri sendiri, punya ruang lingkup pertemanan dan begitu juga dia. Kayak se-oke itu, saat itu. Dia masuk semua kriteria dan aneh anehnya aku HAHAHA Semua ceklis, dari mulai obrolan, wawasan, serunya, sampai ke referensi yang disuka atau ga suka. Saat itu sepertinya ngerasa cocok dan banyak kesamaan, meski pada akhirnya semua yang cocok dan mirip satu sama lain pun ga selalu menjamin kelanggengan.
Mungkin semakin lama kamu kenal dengan seseorang, semakin terbuka lapisan dalam dirinya dan itu yang mungkin awan kaget dari aku. Siapa lah aku saat awal bertemunya, riang, penuh warna dan dikelilingi teman teman yang hangat. Bahkan saat di kampus, seperti saat itu, aku punya sorotan ku sendiri. Bukan begitu, awan? Ku kuliti diri sedikit demi sedikit di depannya, pun saat itu keadaan keluarga ku sedang dalam fase goyah dan ada satu lain halnya. Penuh tawa itu lama lama terasa jadi berat ...
Kembali pada lirik lagu yang ku tulis diatas, "Why can't we be friends when we are lovers?" Mungkin, kita lupa untuk jadi individu yang utuh saat bersama. Karena aku tipikal yang thinkers ya, saat itu banyak hal yang ku cari tau dan jadi bahan intropeksi diri. Perbedaan yang signifikan itu terasa, apalagi saat itu sedang pandemi. Awal awal pandemi, jadi ga bisa bertemu. Aku pun banyak dealing dengan diri sendiri, fin yang selalu aktif dan sibuk kesana kemari harus 24/7 di rumah. Pekerjaan pekerjaan ku terhenti, rencana untuk buat ini itu tertunda. Seperti mimpi buruk masa isolasi saat itu. Aku cukup stress dan sepertinya sering kena ke awan, mungkin. Pun, dia sama juga merasakan isolasi yang menyiksa. Saat menjalani sebuah hubungan, terkadang lupa untuk tetap menjadi individu yang utuh dan tugas sebagai pasangan adalah membersamai bukan untuk mengubah. Kecuali perubahan itu datang dari diri sendiri dan terinspirasi sendiri, tanpa paksaan. Tentunya proses dan perkembangan ada, intropeksi diri pun perlu didalamnya untuk bisa menjadi cermin satu sama lain. Tapi tujuannya untuk menjadi versi terbaik dan rumah berproses satu sama lain yang dibersamai, kan? Lirik ini banyak menggambarkan keadaan hubungan yang kita ini satu sama lain punya, jadi musuh, teman, partner di segala. Cinta adalah sesuatu yang terus disiram, diisi, dilengkapi, diterima, dikasihi dalam semua. Pun dirayakan dalam semua juga kan? Kurang lebih kita ada, tinggal dibersamai dengan dia yang ingin bersama terus. Cantik. Tanpa takut, pura dan cemas. Tulus mengasihi, canda tawa, tangis terpopoh bersama. Cinta. Setia satu sama lain, dikala seluruh telah kita miliki di pertemanan atau lingkungan pekerjaan. Saling percaya, saling memaafkan, saling menerima satu sama lain dan dibangun terus. Tidak membiarkan orang lain ikut mengontrol hubungan, karena ini antara 2 individu yang saling. Komitmen kan? Indah..
Ada habit ku yang ku perhatikan polanya berulang saat dengan awan, pun dengan yang saat ini, aku bisa menunjukan sisi gelap dan emosionalku yang tidak disangka. Si tenang dan santai ini punya sisi sedih yang mendalam juga. Entah seperti apa dan bagaimana, sepertinya kurang lebih setelah 8 bulan kami mengenal. Kami kembali menjadi satu individu yang utuh tanpa bersama. Tentu itu jadi hal yang berat buat aku, tapi disisi lain pun aku sedang drop dan sakit. Jadi ga bisa deh yang gimana banget ...
Ada hal yang ku mengerti setelah perjalanan panjang dengan bertemu diri sendiri saat ini, aku berikan seluruh cinta dan ketulusan hati. Intentions ku pure, tanpa pura. Ternyata tidak semua yang mendapatkan cinta dan kasihku, punya gelas yang cukup besar untuk bisa menampungnya. Pun, bukan berarti aku kehilangan cinta untuk diriku atau hal yang aku tuju. Tidak seperti itu .. Seperti yang aku jelaskan di atas, bahwa aku udah lama banget banget ga punya hubungan romansa dengan orang lain. Aku pernah cinta monyet pacaran bocah waktu SMP, tapi pun yaa ga ketemu yang kayak orang pacaran gitu loh. Karena pacar ku saat itu juga sahabatnya kakak sepupu ku, jadi kalau udah ketemu langsung aja bisa salting plus ortu aku strict saat itu. Aku juga ga paham, apa itu bisa di sebut pacar ya? Setelah aku masuk SMA, aku hanya fokus dengan pendidikan dan syukur alhamdulillahnya di kelilingi sahabat sahabat baik yang aku selalu di rayakan. Aku selalu penuh sama keluarga, sahabat di sekolah saat SMA , pun sahabat sahabat ku di rumah dan saat SMP. Rasa cukup aja saat itu .. Memang ada yang mendekatiku, tapi besar cintanya tidak bisa mengimbangi apa yang sudah ku punya. Masa remaja dan transisiku ke dewasa, full diisi dengan mengejar cita, pendidikan dan dibersamai orang orang terkasih. Sampai pun aku freelance di event event yang ada di Industri kreatif, ga ada satu pun yang membuat aku jatuh hati. Feels so weird? haha sebetulnya sejak awal SMA, aku menaruh hatiku ke seseorang semacam cinta diam diam (?) aku jadikan dia sebagai motivasi ku untuk berkembang. Mungkin semacam kalau kamu suka sama idol yaa, gitu deh. Caraku menyukainya ya dengan belajar, mengejar cita dan berkembang. Kurang lebih itu terus berlangsung sampai akhirnya aku bersama Awan, makanya ku bilang saat itu dia pemenangnya. Ada banyak yang berusaha terus untuk mengambil hatiku saat itu, tapi tidak masuk kriteria ku HAHAH njier. Agak sulit untuk jatuh suka dan jatuh hati, untuk ku. Pun untuk bisa dekat dengan ku ke arah hubungan, bukan seperti itu? wkwkwk Aku mengucapkan banyak terima kasih untuk kalian yang telah sungguh merebut hatiku tapi tidak sampai, sekarang kalian sudah bahagia dan bersama dengan pasangan kalian. Langgeng dan penuh tawa juga hubungannya, Selamat yaaa! Aku memang perlu sedikit ekstra aja hahaha
Ternyata itu adalah akhir dan awal dari hidupku, aku tuangkan keadaan ku dengan awan ke sebuah karya lukisan pertama ku yang ku pamerkan di acara kampus yang ku buat juga haha. Awan menjadi salah satu yang abadi dalam karya ku, di "Tower Moment". Sebetulnya memang saat itu juga menjadi perjalanan yang panjang untuk diriku sendiri di sisi spiritual, semua akal logika rasional ku terkikis. Kebetulan yang mulai buka itu Awan dan Hubungan romansa ku yang menjadi portal perubahan itu semua. Ya namanya juga fins ya, kalau ga dijadiin tulisan, foto, masuk deh ke ranah baru yaitu lukisan.
Hubungan adalah cermin diri, untuk melihat kurang dan lebih diri. Awan menjadi cermin ku, setelah perjalanan dengannya. Aku banyak merenung dan menepi, seperti sebuah tamparan dan penglihatan yang makin terbuka dengan jelas. Awan mengantarkan ku, pada proses transisi paling hebat dan jauh dalam diri "Fin". Kembali pada judul yang ku buat, saat ini aku banyak mengerti lagi tentang diri. Bahwa aku sungguh, pun mungkin banyak yang awalnya understimate karena aku sangat ramah dan social butterfly? pun, tapi aku selalu punya batasan dalam semua, semua pun akhirnya tau kan? hehe Aku terlalu rasional, menyembunyikan perasaan dan sulit mengekspresikan kelemahan ku ke pasangan ku, pun komunikasi saat itu yang sepertinya memburuk. Seperti yang ku bilang, riang dan penuh warna itu seperti kesulitan di temui saat masa bersama dengan awan, mungkin. Dalam perjalanan panjang itu, aku menemukan banyak takut dan kurang. Rasa tidak percaya diri dan harapan yang seperti didepak. Dibenak ku, ya sudah kalau sudah ada ga perlu lagi ina itu. Nyatanya tidak seperti itu, sometime you can choose the wrong one, or maybe, seseorang yang hanya membersamai di waktu tertentu, seperti untuk membuka portal lainnya dalam hidup. Sebaik, serapih apapun itu aku berusaha untuk menyaring yang bisa masuk ke dalam hidupku, jika memang takdirnya menginginkan ku seperti itu, ya terjadi lah. Nasib mungkin bisa sesuai kendali ku, tapi ada hal lain yang kuasanya lebih besar. Iya, Takdir Tuhan. Aku terlalu picky, sangat picky untuk pasangan. Namun, seperti takdir Tuhan dan garisnya mengizinkan ku pada jalan ini. Apa yang bisa ku perbuat? namanya juga masih manusia.
Cinta dan kasih ku hebat, sangat hebat. Mungkin kamu akan kesulitan untuk menampung, menerima dan merasakannya. Mungkin kamu juga belum pernah diterima, disayangi, dicintai dengan penuh. Mungkin kamu akan kebingungan, karena gelas mu tidak cukup besar sedang kasih ku seperti air yang telah memenuhi seluruh gelas yang kamu punya. Seperti kasih ibu yang tiada tara ke anaknya. Seperti yang ku katakan sebelumnya, aku telah penuh dan tumbuh dibersamai dengan mereka yang selalu merayakan ku. Mungkin pula, akhirnya hal ini yang membuatku sempat picky untuk seseorang yang punya gelar "Pacar aku" dan kaget juga saat tidak terbalas dengan setara. Ini cukup rumit, but i really know what i bring to the table. Urusan hati memang tidak bisa dibantah atau dilogikakan dengan seluruh teori atau rasional ku, maka terkadang ini udah bukan kuasa ku lagi perihal rasa.
Kisah awan sudah selesai, tempat yang spesial saat ini sudah terisi. Awan menjadi salah satu yang pernah membawaku ke sisi diriku yang terkubur lama, pun sisi rasionalku sudah tidak separah dulu saat bersama awan. Tapi, satu hal yang ku sadari. Saat aku bersama awan pun, awan mengakui bahwa cinta dan kasih ku besar, ya kan? Kamu tidak punya cukup gelas untuk menampung seluruh yang ku beri, kamu tenggelam didalamnya dan beranjak keluar agar tidak tenggelam. Kami masih saling mencari satu sama lain. Awan saat itu masih memiliki tempat yang indah, mungkin aku juga didirinya? tapi, prosesnya terlalu lama atau aku yang justru akhirnya memutuskan bersama dengan yang lain. Jeda setahun, aku tau perlu untuk melanjutkan dan memberikan kesempatan. Aku jadi banyak berubah lagi, tidak ada siapa pun yang ku berani buka hati karena aku masih yakin Awan akan kembali. Justru malah aku tolak banyak yang berusaha mendekat, saat aku tidak ingin bersama orang itu, memasuki PDKT langsung cut off aja jangan hanya karena kesepian atau untuk chat. Aku seperti itu saat itu HAHA anjir ya. Lagi lagi, wanita selalu ingin kejelasan meskipun sudah menunggu lama. Aku berhenti..
Benar seperti yang awan katakan dan banyak yang mengatakan ini ke aku, bahwa ketulusan itu menakutkan. Ketulusanku maksudnya. Aku baru memahami itu semua, bahwa aku tidak pernah berprasangka buruk dan membuat strategi atau berpura. Orang tuaku, keluargaku dan orang terdekatku yang memberikan ku cinta. Mereka merayakan ku dengan hangat, tidak sempurna tapi cukup. Tulisan ini bukan tentang awan, atau aku yang masih belum selesai dengannya. Awan hanya menjadi jembatan dan cermin ku saat proses 3 tahun lalu. Kini, aku menemukan kepingin puzzle lainnya dalam proses mengenal diriku lagi, lagi dan lagi. Aku tidak akan berhenti menjadi pahit, hanya karena cinta yang ku berikan tidak dihargai atau apa lah. Aku akan tetap menjadi seperti ini, seperti biasa. Sesuatu yang kamu berikan akan selalu kembali ke kamu, apapun itu. Aku tau, aku sungguh dan jujur. I know what i bring to the table and, just let God do the rest. Tuhan adil, dan semua akan selalu terlihat juga. Kalau ada yang merajuk dan mengatakan yang tidak tidak, biarlah saja. Bukankah seseorang itu sudah jelas terlihat seperti apa, dari semua yang mengenal dan mengetahuinya? tidak perlu repot repot membenarkan sesuatu yang sudah benar. Begitu juga dengan diriku kan? Everybody know it, pun kamu pun mengenalku, thats me. enough hehe
When your intentions are pure, you dont lose anyone. People lose you.